February 20, 2007

... Rano Karno banget

Asal muasal berjalannya rencana Tuhan akan terlahirnya seorang Aruna Anggayasti Priyanto, Kharisma Nusanta Priyanto-kakak gw- dan menyusul kemudian adik gw, Helmika Mahendra Priyanto ke dunia, adalah pada hari itu. Suatu hari di sekitar tahun 70’ an, mungkin, saat pemuda berambut keribo ala Ahmad Albar dengan latar kota Surabaya yang sedang hujan meminta seorang ibu guru cantik yang ada dihadapannya untuk menjadi kekasihnya. Ibu guru berambut gelombang mekar terurai yang sedang mode jaman itu bilang, iya.

 

Denger bokap gw cerita masalah kisah cintanya ama nyokap gw bisa ngabisin waktu dari jam 11 malem sampe jam 2 pagi plus 3 gelas kopi sebagai penyemangat. Walopun sebenernya gw sama kakak gw udah denger berulang kali, kami masih menjadi pendengar setia. Mau gak mau, karena bokap gw emang pencerita yang hebat, atau memang ceritanya yang cukup hebat. Memang gak se dramatis drama Jepang atau film Bollywood tapi cukup menginspirasi kami tentang HIDUP. Elaaaa…… jangan kesedek ya gw ngomong gene.

 

Yup, perjuangan dua sejoli ini emang bener2 dari bawah.

 

Mereka pacaran di angkot antar Malang-Surabaya. Bokap gw nyopir, nyokap gw nemenin, jadi kenek? Gak tau. Bokap nyopir, bukan buat bayar kuliah tapi diluar itu, buat biaya gaul. Katanya si, klo di itung2, untung dari nyopir itu lumayan banget. Yang klo jaman sekarang, kerjaan part time yang keren itu jadi waitress di kafe2, hhmmm… mungkin jaman dulu kerja part time ya ini, nyopir angkot.

 

Sudahlah model pacaran mereka yang aneh, tertanyata tidak direstui pula oleh kakek. Si Budi yang saat itu hanya anak kuliahan, belum lulus, belum punya penghasilan tetap dan urakan, gak sebanding dengan calon2 suami yang lain, ada dokter, ada… pokoknya sudah kerja semua deh. Tapi saat nyokap-muda- ditanya mau yang mana, gadis kurus yang duduk menunduk bernama Nuniek itu kekeuh berkata “MasTok aja…” (Mastok panggilan sayang nyokap ke bokap), kakek Soebadi dan keluarga besar yang hadir di sidang itu pun tak berkutik…

 

Emang bokap gw seorang pemberontak, bukan penurut, masih nekad nyuri2 anak orang buat pacaran. Curi2 waktu, curi2 alesan. Backstreet ceritanya. Aahh… indahnya sinetron.

 

Pernikahan pun terjadi sederhana, yang lebih mirip kawin lari. Suatu hari kedua sejoli itu membulatkan tekad, nyokap gw kabur dari rumah, loncat jendela. Sang kakek belum merestui, mungkin cuma menjalankan ijab kabul. Pernikahan digelar di rumah bokap, tamu seadanya, gak ada resepsi di gedung kawin mewah ataupun undangan berpita emas.

 

Habis kawin, tak direstui pula, otomatis harus hidup mandiri.

 

Untungnya bokap udah lulus dari kuliah. Dengan berbekal ijazah di tangan, bokap melamar kerjaan apa saja asal bisa menghidupi satu manusia yang sekarang menjadi tanggung jawabnya, istrinya. Apa saja, sampe2 bokap pernah ngelamar jadi kuli bangunan, dan dijawab oleh mandor, mas, lulusan sarjana ngapain ngelamar kerja kaya gini…

 

Dan akhirnya, bokap gw dapet kerja as PNS di PU alias Pekerjaan Umum-buat kalian yang gak tau- dan harus bersedia dengan penempatan di derah manapun. Waktu itu, tawarannya ada Sulawesi Mana Lupa dan NTB. Yaa…. Anda benar! Akhirnya kedua insan itu merantau ke Lombok pada tahun 80’ an. Lombok yang pada saat itu masih jauh dari peradaban, dengan budaya yang berbeda, menjadi tempat adu nasib mereka. Pertama hidup di kamar dengan satu kamar, yang merangkap jadi ruang tidur, ruang tamu dan ruang keluarga, plus teras yang jadi dapurnya. Karena penganten baru, kata mereka si seneng2 aja walopun tiap hari menunya makan dendeng goreng. Pake backsong lagu Koes Plus, gw bayangin film2 jadul, yang bintangnya Rhoma Irama atau Rano Karno, mirip mereka kali ya…

 

Tahun 1982, lahirlah bayi laki2 yang putih, cakep, rambut lurus, kakak gw.

 

Tahun 1987, lahirlah bayi perempuan berkulit hitam, keriting, berhidung pesek, itu gw…

 

Jangan bingung, jangan heran, hidung gw dulu emang pesek sek sek… Gak tau kenapa, sekarang bisa mencuat tak terkendali. Bu de2 dan Tante2 gw bilang, dulu hidungnya rajin di tarik2 sama ibu biar mancung ya… Gak sama sekali. Saat gw dan kakak gw berada di reuni keluarga, selalu dibilang, Risma mirip ibu e, Angga-panggilan lain gw- mirip Tatok-bokap gw-. Ayahanda, jangan marah, mirip bapak berarti gak cakep kaya ibu.

 

Saat gw belum kelar TK, bokap boyong keluarganya ke Bandung, demi bokap gw yang akan melanjutkan menuntut ilmu di kota pendidikan ini. Rumah boleh kontrakan, tapi mobil punya dong. Keluarga gw emang termasuk mendahulukan kebutuhan senang2 daripada kebutuhan primer sepertinya… Mobil sedan Honda Civic bercat hijau muda itu berjasa membawa kami mondar mandir Bandung-Surabaya buat mudik. Oia, kakek Soebadi sudah merestui sepenuhnya. Karena melihat kegigihan bokap gw dan melihat cucu pertamanya-kakak gw-yang ndut, ginuk ginuk dan menggemaskan itu. Hati orang tua mana yang gak luluh… Budi sudah membuktikan kepada mertuanya, komitmennya tidak main2.

 

Setelah belajar di kota Bandung, kami kembali lagi ke Lombok dengan bekal lebih mantap.

 

And life goes on…

 

Bokap menyelesaikan sisa ceritanya dengan petuah2-seperti biasa- sambil menyeruput kopi. Mas Risma juga. Gw kopi susu. Sudah lewat pagi, ibu nungguin nih. Keluarlah kami dari kafetaria atau coffee shop itu.

 

Sekarang, saat umur mereka hampir genap 50, saat gw liat adegan bokap protes karena tempenya kurang garem, dan nyokap ngomel ngingetin masalah kesehatan, gw masih bisa lihat ke-Romantisan-isme mereka.

 

Ini cuma sepenggal kisah diantara kisah2 hebat dan inspiratif lain yang mungkin juga sering kalian dengar dan disumpal2 masuk ke telinga kalian oleh orang tua kalian.

 

Kadang2 gw pikir, keluhan2 kita saat ini tidak sebanding dengan perjuangan orang tua kita pada jaman dulu yang pasti dramatis bak film nya Rhoma Irama dan Rano Karno tadi. Gw hampir percaya kalo, sengsara mengabadikan cinta. Dikasi quote biar lebih dramatis:

 

“Sengsara Mengabadikan Cinta…”

 

-Seandainya ortu gw punya account di friendster dan baca blog ini, bakal komen apa ya…-

September 02, 2006

Aruna vs de Coro

KAMAR-Sore itu hari cerah. Setelah beres2 kamar. ngepel dan nguras kamar mandi. Aruna sedang menikmati kamarnya yang bersih sambil membaca novel yang belum diselesaikannya sudah lama. menganggu ketentramannya, Aruna menemukan seekor kecoak berjalan keluar dari kamar mandinya. Dari mana pula kecoak ini datangnya, baru kali ini ada kecoak yang masuk.

Kecoak itu mulanya menemukan cahaya dari pipa sempit yang dilewatinya, ia mengikuti cahaya itu. Dan tiba di sebuah ruangan yang dingin dan basah. keluar dari ruangan itu, ia memasuki ruangan lain, lebih hangat... Kecoak itu memeriksa ke sekitar ruangan. Dia tidak mau dipukul lagi dengan sapu atau dipenyet dengan buku. Cukup sudah.

...Oh tidak!! Disana ada manusia. Maka, kecoak itu berjalan pelan2 supaya tidak menarik perhatian. Oh tidak!! Dia melihatku!! Manusia itu berdiri dan mendekati kecoak itu. Hingga jempol raksasa itu ada di depannya, kecoak itu mengumpulkan keberanian, kecoak itu berkata, "p-p-perkenalkan, saya de Coro... s-s-saya cuma mau numpang lewat..." kata kecoak itu.

...Sepertinya manusia itu tidak mengerti, dia tuli atau bodoh pikir de Coro... Karena manusia itu malah melempar buku yang dipegangnya. Hampir saja!! Tapi tidak kena... de coro sudah terlatih dan berpengalaman.

Tidak terima daerah teritorialnya dimasuki hewan tak diinginkan, "Cih, kecoak, Kamu harus keluar dari sini!" Aruna menunjukkan wajah penuh kemarahan, bergejolak dan membara.

Ketakutan, de Coro masuk ke dalam kamar mandi kembali. Berharap raksasa itu tidak mengikutinya lagi. Tapi dia tidak mau masuk ke dalam pipa sempit dan gelap itu lagi.

Ternyata tidak, Aruna tetap mengikutinya. Dimana kecoak itu... Sebenarnya Aruna jijik juga harus berurusan langsung sama kecoak. Tapi gak bisa dibiarin menodai kamarnya yang sudah bersih. Aruna sudah siap perang!

de Coro bersembunyi di balik engsel pintu kamar mandi. Bahaya juga, kalo pintunya bergerak, ditutup. Dia bisa mati gepeng disini. Akhirnya de Coro keluar dari tempat persembunyian, menyusuri pojok2 kamar mandi dan keluar dari arena perang itu dengan selamat. Tapi de coro gagal, sebuah banjir bandang menghanyutkannya. Air itu dingin...

Aruna menyiramnya dengan air, mengarahkan kecoak itu kembali ke lubang. kecoak itu pun terjebak di lubang. Tapi belum masuk. Dia masih berusaha keluar. Kaki2nya yang kurus mengais2 tak berdaya berusaha keluar dari sana. ternyata ini belum cukup. Aruna mengeluarkan senjata selanjutnya... Hmmm... Apa yang bisa dipake... kemudian dia melihat bahan2 pembersih yang di taruh di atas pintu kamar mandinya. Ada molto, attack, sikat baju, so klin pembersih lantai, dan...  Vixal! Yup, vixal pembersih porcelain! Mungkin ampuh, Aruna bisa gatal2 kalu terkena cairan vixal ini.

Raksasa mengerikan itu memegang sebuah botol, membuka tutupnya, termenung sebentar, kemudan menumpahkan cairan di dalamnya ke tubuh de Coro. Apa ini?? kental dan baunya menyengat. Tapi tidak mematikan. De Coro berusaha melarikan diri lagi. Satu2nya jalan melewati diantara kaki2 raksasa itu. Satu, dua, tiga, kaburrr!!!

"Aaaaa!!!" Aruna berteriak karena hampir saja kecoak itu menyentuh kakinya. Dia meloncat ke atas ubin yang lebih tinggi. Dia tidak akan membiarkan kecoak itu kabur dan lebih sulit dibasmi. Aruna mengambil seciduk air.

...de Coro terhempas banjir bandang lagi.

kecoak itu kini mengadah. Tidak bisa membalik badannya. kakinya hanya bergerak2 di udara. Hah!! dia tidak bisa bergerak, pikir Aruna. Kini selanjutnya mengeluarkan senjata selanjutnya. Ternyata vixal tidak mempan. Hmmm... Sekarang pakai... Shock penghilang sumbat saluran!

"Oh Tuhan... Manusia itu makin menjadi. Dan aku kini terjebak tak bisa kemana2", pikir de coro. Kini manusia itu menggunakan bubuk2putih yang ditabur sekujur tubuh de Coro. Mungkin tidak mempan juga seperti yang tadi.

Tapi ternyata tidak! kecoak itu terlihat berasap atau mengeluarkan asap dan berbuih. Asap itu membuat sesak hidung aruna. Dia harus menutup hidung dengan tangannya. Aruna senang akhirnya berhasil. tapi kecoak itu masih bisa menggerak2an kakinya, walaupun lemah. Harus bagaimana lagi... mungkin inilah saatnya mengeluarkan senjata pamungkas. Sikat kamar mandi! Sederhana, simple, mematikan bila digunakan dengan tepat.

Raksasa itu memegang benda yang sangat dikenal de Coro. Bertangkai panjang dan diujungnya ada sikat yang menyakitkan bila dipukulkan ke tubuhnya. Dia sudah menghadapi jenis senjata ini berkali2. Dia tidak bisa lari, tubuhnya terlalu lemah terkena bubuk aneh itu. Dia pasrah...

"Hiyaaaa!!!!" Aruna mengayunkan sikat itu dan mengenai tepat tubuh kecoak. Buk!

Krak... Tubuh de Coro sebagian ada yang patah, pelindung tubuh atasnya. perutnya berlubang. Dan kaki nya beberapa patah... ah...inilah ajalku... Di tangan raksasa ini... Dia hebat... berhasil mengalahkan de Coro yang melegenda ini.

Aruna menutup mulutnya dengan tangannya. Walaupun dia senang bisa menang. tapi dia tidak pernah melakukan pembunuhan terhadap kecoak sebelumnya. maaf ya... kecoak... Diangkatnya sikat itu. kecoak itu sudah tidak bergerak lgi. Untung, akibat dari pukulan itu tidak terlalu dramatis. Aruna tidak suka kalau harus melihat jembretan2 atau lendir yang keluar dari tubuh kecoak itu. Untung yang ini bersih.

de coro menatap raksasa itu lekat2. Pembunuh dirinya... Tidak disangka muncul rasa simpati. karena raksasa itu melihat iba terhadap dirinya. Yah... manusia itu terpaksa membunuhku, pikir de Coro. Mana ada yang membiarkan mahluk kecil dan kotor ini mengganggu kehidupan mereka. de Coro maklum dan mati dalam damai. Saat banjir bandang yang ketiga menghempas tubuhnya yang lemah dan membawanya ke dalam pipa yang dingin dan sempit itu. Akhirnya...

Fuuhhh... Aruna lega. Dia kembali ke tempat tidurnya, dan melanjutkan membaca buku. Kecoak itu pasti masuk surga, harap Aruna...

July 30, 2006

What is your type?

MALANG-Cowo tipe gue? Want to know... aja!

Di suatu sore, dalam angkot yang penuh sesak, sepertinya abis balik dari Surabaya, ada dua cewe-satu manis, satu cantik, hueheuheu...- yang terlibat obrolan seru, tentang topik yang klasik, Yup, 'Cowo tipe gue'.

Gak cuma klasik-menurut gue- tapi cenderung ngikutin trend. Kalo gue inget2... jaman2 SMA dulu, jawaban dari pertanyaan itu kebanyakan, "Yang nyambung dan bikin gue nyaman itu sudah cukup". Beberapa artis yang gue liat di infotainment juga ngasi jawaban yang sama. Hmmm... Yang nyambung dan membuat kita nyaman... Not bad. Hal itu penting juga supaya kita gak cepet bosen dan bete hanya karena gak punya bahan obrolan waktu bedua. Kita juga bisa curhat sekaligus menjadikan dia tempat sampah dikala susah dan senang. Bisa dibilang, si Mr. Asik. Do u want dis kind to?

Ada Mr. Asik ada Mr. Right. Saat masuk kuliah, dimana semua orang menjadi lebih dewasa dan berpikiran serius. Jawaban selanjutnya yang gue denger, "Cinta itu bullshit, makan apa kalo gak ada uang." Fuuhhh... atau versi halusnya, "Cinta itu bisa dateng pelan2 kok, yang penting gue cari cowo yang bisa menjamin hidup gue, yaahh... mungkin gak perlu tajir, tapi kita bisa liat potensinya dari sekarang kan?" It's just my conclusion, sepertinya kebanyakan girls on college lebih memilih Mr. Right yang akan menjamin hidupnya kelak, ketimbang Mr. Asik yang bisa jadi teman sehati, sahabat sehidup semati. Beberapa, keukeuh mencari perpaduannya.

Yang lain, ada yang bilang, "Yang penting dia bisa bikin gue bahagia!"

Atau, "Yang penting seiman dan soleh, bisa jadi pemimpin keluarga." Subhanallah...

Ada juga, "Dia harus bisa olahraga, apalagi basket, ummm... bagus lagi, kalo bisa maen piano, ughhh... gak kuku..."

Begitulah obrolan kedua cewe di dalem angkot tadi berlangsung, gak sadar suara mereka terlalu keras ya? Ketawa cekikikan gak jelas. Kadang, yang salah satu jadi tersipu2 malu. Yang rambut lurus bisik2 ke yang berambut ikal, "Psstt... Yang duduk dipojok itu, tipe gue banget.." Sambil ngelirik ke cowo yang bertopi, kurus. Gak cakep, gak jelek, tapi aura ke-cowo-an nya kentel banget.

"Ooooh.. iya, iya, eh, jangan2 tipe lo sama kaya gue, yang kaya gimana tepatnya?"

"Gak tau.. pokoknya gw tau itu tipe gue" kata si baju hitam senyum2 gak je.

"Klo gue ye..." Bla.. bla... bla...

"Heh?! Kok aneh?! Ooohhh, gue tau, pasti si..."

"Emang lo tau? Siapa coba?!"

"Wekekeke... Itu kan..."

Dan berlangsunglah terus omong2 itu... Emang dasar cewe, sampai angkot menurunkan mereka, mungkin seisi nya udah mual2 denger obrolan yang gak penting ini. Tau, si cowo ngerasa apa nggak diomongin... Turun angkot pun masih ketawa2. Dan seraya memberikan 'da-dag' tak tersampaikan buat cowo tipe mereka di angkot tadi.

Pesen gue, buat para cewe, tentukan kriteria kalian dari sekarang! Kalo perlu bikin listnya! Jangan sampai termakan rayuan sesat sesaat. Bukannya pemilih, semua masih harus kita pasrahkan pada Yang Kuasa. Tapi berusaha boleh kan... Ibadah untuk mencari Adam yang benar.

Buat para cowo, jangan memalsukan dirimu untuk menjadi pribadi yang lain demi mendapatkan seorang cewe. Tapi gapailah masa depanmu yang terang benderang! Kalo udah sukses, cewe mana sih yang gak pengen? Coz' a real woman worth for the real man...

So... What is ur type?